the competition are open for everyone in the earth~
Crafty Days #7
11-12 May 2013 at Gedung Indonesia Menggugat
-
Halo! di tahun 2013 ini para monster ikut unjuk gigi di Crafty Days #7. Crafty Days adalah event tahunan dari Tobucil dan tahun ini Tobucil merayakan ulang tahunnya yang ke 12. Sabtu dan Minggu 11-12 Mei kemarin akhirnya datang juga. Di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, sekitar 40 booth dari para crafter siap memeriahkan Craft Bazaar. Woow it was a great atmosphere! Awesome handmade stuff and artwork everywhere!
Pagi pukul 09.00 monster-monster Peppercorns sudah duduk manis diatas rumput menunggu teman-teman datang. Lengkap dengan kendaraan andalan monster: kereta! Dan akhirnya teman-teman monster pun berdatangan. Senangnya, banyak teman-teman kecil yang lucu, monster-monster dicubit-cubit deh oleh mereka :)
Hari ke-2, pengunjung Crafty Days semakin ramai. Banyak juga monster yang diadopsi. Acara Crafty Days tidak pernah sepi karena dimeriahkan juga dengan beragam workshop, musik sore, kuis, dan lain-lain sampai pukul 18.00.
Senang sekali para monster bisa ikut berpartisipasi di Crafty Days #7 tahun ini, selain mendapat banyak teman baru, juga inspirasi dan semangat untuk terus bermain dan berkarya.
Terimakasih Tobucil. Terimakasih teman-teman yang sudah berkunjung ke booth kami dan mengadopsi monster. Sampai jumpa di event berikutnya!
-
Writen by Syifa Rahmasari from Peppercorns Monsterland
Kuliah Santai Sore
Alternative Media session
-
Himpunan Mahasiswa Seni Rupa UPI kembali menggelar acara dua mingguan yang bertajuk Kuliah Santai Sore, Rabu (8/5) di Ruang Desain Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI. Pertemuan kali ini masih menggaet Mufti Priyanka a.k.a Amenkcoy sebagai fasilitator yang menghadirkan langsung dari Cinunuk, Dilla dan Dally Anbar dua pemuda resah berparas mirip (mereka ngakunya sih anak kembar) pentolan dari Cucokrowo Mekgejin, sebuah indie zine yang berasal dari Kota Bandung.
We are the badass zine ever in INA
Kalimat yang tercantum dalam bio twitter tersebut memang mewakili karakter dari zine tersebut, dan seyogyanya semua orang akan mengiyakan apabila telah membaca hasil karyanya, demi Tuhaan!.
Di tahun 2010 Barlie Ve, Dilla Anbar, Dally Anbar, dan Jaisa Randy membuat media bagi mereka berekspresi, mungkin dikarenakan kegelisahan yang mereka rasakan akibat tekanan mental sebagai pengangguran. Memang apabila tidak diluapkan tekanan mental yang dirasakan pengangguran akan mempengaruhi sistem kerja syaraf otak dan pencernaan sebelah kanan, oleh karena itu mereka mencoba mereduksi pengaruh tersebut dengan cara menulis bebas, menggambar, me-review acara musik, dan lainnya.
Nama Cucukrowo Mekgejin terinspirasi dari rambut anak punk yang seperti duri, dalam bahasa Sunda disebut cucuk. Mengapa rambut cucuk anak punk yang menjadi inspirasi mereka bukan rambut anak emo yang lebih halus nan nyengled? sekali lagi ini mewakili karakter buletin yang nyeleneh dankucel seperti visualisasi anak punk slebor yang sering kita lihat di perempatan jalan. Kemudian mereka menambahkan kata rowo untuk melengkapi cucuk agar terdengar lebih jantan seperti burung cucokrowo yang menjadi lambang zine ini. Tidak mau disamakan dengan majalah anak SMA yang mengimbuhkan kata Magazine dibelakangnya, maka mereka menambahkan kata Mekgejin untuk mempertegas zine ini diperuntukan bagi mereka yang telah melewati masa akhir baligh.
Konsep zine yang nyeleneh tidak seperti pada umumnya menjadi suatu sensasi tersendiri bagi para pembaca, meskipun konten yang ada di dalamnya tidak terlalu penting namun cukup membuat orang tertawa geli atau geuleuh ketika membacanya. Indie zine yang masih bertahan selama tiga tahun ini telah mengedarkan 14 edisi berbentuk fisik dan 13 edisi berbentuk digital *.pdf yang bisa diunduh gratis di blog mereka.
Materi yang ditampilkan pada tiap edisi sangat variatif, dengan rubrik-rubrik yang beragam menggelitik, dari manual drawing Dilla (atau Dally, lupa) hingga kolase-kolase digital tokoh-tokoh yang dibuat kocak. Dalam beberapa edisi terdapat pula karya komik absurd yang dibuat oleh Yoga, tam-tamer dari orkes legendaris Pemuda Harapan Bangsa.
Keberanian untuk bersuara bebas, think wild!
Dally dan Dilla yang bukan berlatarbelakang pendidikan seni rupa atau desain tidak menutup keinginan mereka untuk berekspresi mengeluarkan ide gagasan buah pikirannya melalui sebuah buletin yang dapat dinikmati oleh orang lain juga. Dengan layout seadanya, tulisan yang tidak sesuai EYD dan artwork yang berjubel mereka berani untuk memperlihatkan ke semua orang (mungkin tidak pada kedua orangtua mereka) bahwa itu adalah karya mereka yang mereka banggakan. Menurut mereka membuat zine ini merupakan kuliah yang sebenarnya, zine ini membuat mereka untuk lebih belajar menulis lepas bebas, membuat artwork-artwork gahar, me-layout tampilan tiap halaman zine, membuat teaser video, hingga berinteraksi dengan orang lain yang belum mereka kenal ketika hadir di sebuah gigs.
Spirit itu yang mengantarkan mereka sampai di tahun ketiga meskipun mereka sudah mencoba untuk bubar namun tidak bisa dikarenakan nantinya tetap akan bertemu di rumah yang sama, di kamar yang sama malah.
Kuliah Santai Sore kali ini memang menghadirkan materi yang tidak biasa serta pemateri yang luar biasa pula, mengingatkan kembali kepada budaya menulis yang memang perlu ditingkatkan kembali, tidak terlepas apa profesinya, baik guru, seniman, bahkan oleh seorang tukang sayur sekalipun yang harus menuliskan daftar harga belanjaannya agar dia tidak mengalami kerugian. Kuliah Santai Sore Rabu ini mengajak para audiens untuk lebih liar untuk mengekspresikan diri, tidak mesti terpaku dalam satu saluran berkarya namun dapat pula mengupakayan berbagai lini, mencari media alternatif untuk meluapkan gagasan yang ada dalam pikiran. Hebred mang!
-
Sigit Ramadhan
(23:23 bersama teh manis)
-
Links
Cucukrowo Mekgejin Tumblr (download tiap edisi disini)
Cucukrowo Mekgejin Official Twitter
https://twitter.com/cucukrowo_mek
Cucukrowo Mekgejin Facebook Fanpage
Play with Kiming and Adel
-
Yesterday afternoon, with several little friends from neighborhood, feed Kiming and Adel some snack and play together
WAYANG CYBER
at NO FEST Live Audio x Visual Battle
-
Seni pertunjukan wayang tradisi seperti wayang kulit, wayang golek, apalagi wayang orang sebut saja OVJ yang hampir setiap hari tayang di salah satu stasiun televisi swasta tentunya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Wayang kulit dengan latar cerita Mahabaratha atau Ramayananya, wayang golek dengan latar cerita Punakawannya, dan wayang orang ‘pop’ dengan latar YA E! YA E! styerofoam nya.
Wayang Cyber, komunitas seni multidimensi
Mendengar kata Wayang Cyber, mungkin masih asing bagi para penikmat pertunjukan wayang. Gebok pisang, gamelan, atau peralatan yang biasanya ditemukan pada pertunjukan wayang tradisi tidak akan kita temukan disini. Wayang Cyber merupakan pertunjukan wayang tradisi yang dikemas kembali dengan nuansa urban.
Sebuah komunitas seni yang menggunakan plastik mika transparansi sebagai pengganti kulit kerbau pada setiap karakter wayangnya, mereka tidak menggunakan lampu sorot (atau lentera) untuk menghasilan siluet wayang pada helaian kain namun menggunakan bantuan OHP (Overhead Projector) untuk menampilkan karakter wayang pada dinding pentas. Hadirnya efek visual dalam pertunjukan Wayang Cyber menjadi salah satu sajian tersendiri yang memanjakan para apresiator, hal ini tentunya tidak akan kita temukan dalam pertunjukan wayang tradisi. Efek visual tersebut mereka hasilkan melalui permainan alat dan bahan sederhana yang diolah secara konvensional serta penggunaan media elektronik seperti komputer jinjing yang mengoperasikan program olah citraan lalu diproyeksikan melalui proyektor digital. Musik eksprerimental dan efek suara yang kadang tidak familiar dengan telinga masyarakat umum menjadi pengiring pertunjukan Wayang Cyber ini.
Live audio x visual battle
Jumat, 5 April 2013 kemarin terselenggara acara bertajuk “NO FEST Live Audio X Visual Battle” di Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi Bandung. Acara yang menggelar pertunjukan musik eksperimental sekaligus menghadirkan sajian citraan yang menarik dari para Visual Jockey. Hadir beberapa musisi (atau apalah saya menyebutnya) lokal dan internasional salah satunya adalah Nikola Mounoud dari Chechnya, serta beberapa VJ yang sudah banyak dikenal seperti Ori (Ashesteam) dan Killafternoon. Para eksperimentalis tersebut melakukan pertunjukan di ruang dan waktu yang sama. Visual Battle 2 orang VJ dan solo play dari musisi eskperimental, disaat nada-nada non-diatonis menyeruak keras keluar dari kotak hitam pengeras suara secara bersamaan citraan-citraan berhamburan memenuhi dinding kotak empat meteran persegi itu, sajian audio visual yang tidak biasa.
Nikola Mounoud dengan raungan musik eksperimental yang dihasilkan oleh program olah suara yang mungkin masih asing dikalangan eksperimentalis lokal memecah hening dingin Babakan Siliwangi malam itu. Penampilan Nikola dibarengi oleh battle Ori dan Killafternoon yang mengolah citraan-citraan yang dihasilkan melalui komputer jinjing mereka. Olah visual secara digital seperti ini tentunya memiliki kelebihan tersendiri ketimbang olah visual konvensional dengan bantuan OHP. Transisi dan pengolahan footage lebih mudah dilakukan serta warna dan cahaya dapat diatur sesuka hati sang joki citraan.
Tampil setelahnya, Wayang Cyber akan solo visual perform bersamaan dengan Bin Indris. Cocok, lantunan bernuansa Hindustan yang dihasilkan dari petikan gitar Bin Idris bervisualkan permainan wayang kontemporer dari Wayang Cyber. Dalam acara ini, Wayang Cyber tidak menampilkan sebuah latar cerita khusus, mereka lebih bereksplorasi pada sajian citraan yang dihasilkan. Mereka menggunakan peralatan rumah tangga dan bahan-bahan yang mungkin sehari-hari kita sering menggunakannya, seperti pengering rambut elektronik, akuarium, sabun pencuci piring, gelas bekas air mineral, dan lain sebagainya. Dan yang cukup menarik perhatian mereka menggunakan puluhan impun (anak ikan) dan cacing kremi makanan ikan cupang untuk menghasilkan efek citraan yang tidak biasa.
Peralatan disiapkan, sekitar delapan orang anggota Wayang Cyber menempati posnya masing-masing. Setiap anggota memiliki peran yang penting, meskipun kerjanya hanya mematikan dan menyalakan lampu OHP namun hal tersebut merupakan salah satu faktor krusial untuk menghasilkan efek visual yang diharapkan. Cahaya lampu OHP dan infocus segera disorotkan pada dinding, gunungan membuka pertunjukan Wayang Cyber X Bin Idris dalam acara battle malam itu, dan selanjutnya olah visual merespon lantunan gitar Bin Idris, tenang di awal dan semakin riuh di penghujung. Applause para apresiator menutup performance mereka yang sangat menarik.
-
Sigit Ramadhan
-
(09:57 sambil menunggu unggahan video dokumentasinya, semoga)
Aku dan Dunia
Pameran Tunggal Seni Cetak Grafis Moel Soenarko
-
Nama Moel Soenarko saya ketahui ketika membaca katalog pameran Trienal Seni Grafis IV 2012 kemarin. Karya cukil kayu dengan 100 edisi membuat saya tercengang, apalagi ketika membaca biografi dan melihat foto senimannya. Anjir edan!
29 Maret 2013 kemarin Moel Soenarko, seniman perempuan berusia 72 tahun itu menggelar pamerannya di Galeri Wastu STDI Bandung. Apresiasi semangatnya di usia selanjut itu beliau masih produktif berkarya, terlebih karya seni grafis yang memerlukan kedisiplinan dan keuletan cukup tinggi dalam proses pengerjaannya.
Lantunan lagu keroncong oleh Keroncong Merah Putih menyambut para tamu undangan untuk duduk sejenak sambil menikmati segelas bandrek hangat sebelum pameran ini dibuka. Bu Moel, sapaan hangat beliau, menyambut tamu undangannya dengan membaca puisi yang sengaja dipersembahkan bagi para tamu yang hadir untuk mengapresiasi karyanya. Disambung oleh salah seorang Dosen saya ketika kuliah kemarin, Bambang Sapto yang membaca puisi dengan penuh penghayatan sebagai bentuk apresiasi terhadap pameran Bu Moel sahabatnya. Selanjutnya pameran dibuka oleh salah seorang tokoh seni rupa Indonesia yaitu Tisna Sanjaya yang sedikit menyisipkan kampanye ‘save babakan siliwangi’ dalam sambutannya.
Pameran ‘Aku dan Dunia’ ini merupakan pameran tunggal Moel Soenarko yang ke-3, pada pameran ini beliau menampilkan puluhan karya seni grafis miliknya dengan teknik cukil kayu dan etsa. Lanscape dan human figure menjadi kecenderungan yang beliau tampilkan dalam karya-karyanya. Keseluruhan karya cukil kayunya dibuat dengan jumlah masing-masing 100 edisi, sangat menakjubkan untuk perempuan seusia beliau.
Dalam kuratorial pameran yang ditulis oleh Heru Hikayat, Moel Soenarko menggambarkan pemandangan disekitarnya sesuai kenyataan sebagaimana terlihat. Sudut pandang pribadi beliau menghasilkan pemandangan yang unik, meninjau ke dua arah: ke dalam, ke jiwa yang tak terbatas, ke luar, menempatkannya di tengah dunia yang penuh keterbatasan.
Pameran seni grafis ‘Aku dan Dunia’ ini merupakan suatu pencapaian yang sangat inspiratif, terutama bagi para seniman muda yang masih banyak waktu baginya untuk mengekspresikan pemikirannya. Banyak pelajaran yang dapat diambil dalam pameran ini, baik hal-hal yang berkaitan dengan teknis seni grafis serta semangat dalam berkarya tentunya. Pameran ini masih akan berlangsung sampai tanggal 12 April 2013 nanti, ada baiknya bagi peminat seni grafis yang belum mengapresiasi untuk segera melangkahkan kakinya menuju Galeri Wastu STDI Jl. Wastukancana Bandung
-
Sigit Ramadhan
-
(10:19 merasa seditkit menyesal baru membuat review ini seminggu setelah acara, hadeuh)
Going Wild
Sigit Ramadhan
watercolor on paper
30 x 41,5 cm
2013
comission artwork for Peppercorns Monsterland
Separate The Unblessed Soul
Sigit Ramadhan
pencil and watercolor on paper
30 x 41,5 cm
2013